5produksi tekstil yang dapat dihasilkan dari serat hewan. Question from @Iizmaniz388 - Sekolah Menengah Pertama - Wirausaha In . Iizmaniz388 @Iizmaniz388. April 2019 1 2 Report. 5 produksi tekstil yang dapat dihasilkan dari serat hewan . MasToni01 2.syal dari bulu hewan 3.sepatu dari kulit 4.selimut Secara umum,jenis
Hingga saat ini, kapas masih menjadi bahan baku utama dalam proses pembuatan benang untuk memenuhi kebutuhan industri tekstil Indonesia. Sebagian besar kebutuhan akan serat kapas dipenuhi dari impor luar negeri dan kurang dari 4% dipenuhi oleh produksi kapas dalam negeri. Tanaman jagung Zea mays adalah salah satu hasil pertanian utama yang dihasilkan Indonesia. Berdasarkan data BPS, kecenderungan perkembangan produksi jagung dari tahun 2010-2013 mengalami kenaikan sehingga limbah kulit jagung yang dihasilkan juga meningkat. Hingga saat ini limbah kulit jagung masih belum dimanfaatkan dengan optimal. Sementara itu kulit jagung mengandung serat selulosa yang cukup tinggi dan berpotensi untuk dikembangkan menjadi salah satu alternatif bahan baku serat selulosa dalam pembuatan benang pada industri tekstil Indonesia. Pada penelitian ini telah dilakukan ekstraksi serat selulosa dari kulit jagung dengan perlakuan basa menggunakan Natrium hidroksida NaOH dengan variasi konsentrasi 1, 3 dan 5 % berat pada temperatur ±90 0 C. Hasil Fourier Transform Infrared FTIR menunjukkan bahwa secara kualitatif kandungan lignin serat kulit jagung setelah proses alkalisasi mengalami penurunan. Kekuatan tarik maksimum serta aspek rasio maksimum serat selulosa kulit jagung diperoleh dari perlakuan dengan NaOH 5% berat dengan waktu 3 jam, yakni 118 MPa dan 481. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Ekstraksi Serat Kulit Jagung sebagai Bahan Baku Benang Tekstil Fathimah Azzahro __________________________________________________________________________________________ 21 EKSTRAKSI SERAT KULIT JAGUNG SEBAGAI BAHAN BAKU BENANG TEKSTIL Fathimah Azzahro, Mardiyati, Steven, dan R. Reza RizkiansyahTeknik Material, Fakultas Mesin dan Dirgantara, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10 Bandung E-mail Diterima 30 Oktober 2014 Diperbaiki 6 April 2015 Disetujui 25 Mei 2015 ABSTRAK EKSTRAKSI SERAT KULIT JAGUNG SEBAGAI BAHAN BAKU BENANG TEKSTIL. Hingga saat ini, kapas masih menjadi bahan baku utama dalam proses pembuatan benang untuk memenuhi kebutuhan industri tekstil Indonesia. Sebagian besar kebutuhan akan serat kapas dipenuhi dari impor luar negeri dan kurang dari 4% dipenuhi oleh produksi kapas dalam negeri. Tanaman jagung Zea mays adalah salah satu hasil pertanian utama yang dihasilkan Indonesia. Berdasarkan data BPS, kecenderungan perkembangan produksi jagung dari tahun 2010-2013 mengalami kenaikan sehingga limbah kulit jagung yang dihasilkan juga meningkat. Hingga saat ini limbah kulit jagung masih belum dimanfaatkan dengan optimal. Sementara itu kulit jagung mengandung serat selulosa yang cukup tinggi dan berpotensi untuk dikembangkan menjadi salah satu alternatif bahan baku serat selulosa dalam pembuatan benang pada industri tekstil Indonesia. Pada penelitian ini telah dilakukan ekstraksi serat selulosa dari kulit jagung dengan perlakuan basa menggunakan Natrium hidroksida NaOH dengan variasi konsentrasi 1, 3 dan 5 % berat pada temperatur ±90 0C. Hasil Fourier Transform Infrared FTIR menunjukkan bahwa secara kualitatif kandungan lignin serat kulit jagung setelah proses alkalisasi mengalami penurunan. Kekuatan tarik maksimum serta aspek rasio maksimum serat selulosa kulit jagung diperoleh dari perlakuan dengan NaOH 5% berat dengan waktu 3 jam, yakni 118 MPa dan 481. Kata Kunci FTIR, jagung, kekuatan tarik, serat selulosa, tekstil ABSTRACTEXTRACTION OF CORN HUSK FIBRE AS RAW MATERIAL FOR TEXTILE YARN. Currently, cotton serves as the commonly used raw material for textile yarn to fulfill the demand of Indonesian textile industries. Most of the cotton fiber needs are still imported and less than 4% are supplied by domestic production. Corn Zea mays is one of main crops produced in Indonesia. Based on data from BPS, production of corn in 2012-2013 are relatively increased, which also followed by the increase of corn husk waste. Recently, corn husk waste is not optimally utilized. Corn husk actually has potential to be used as source of cellulose as it has fairly high contenct of cellulose, especially as an alternative raw material for yarns in Indonesian textile Industry. In this research, the cellulosic fiber was extracted from corn husk by alkali treatment using Sodium hydroxide NaOH at ±90 0C with concentration varied in 1, 3, and 5wt% and time varied in 1 and 3 hour. FTIR characterization showed that lignin content of corn husk fiber qualitatively decreased after alkali treatment process. Ultimate Vol. 18, No. 1, Juni 2015, hal 21-25 Majalah Polimer IndonesiaISSN 1410-7864 ____________________________________________________________________________________________________ 22 tensile strength and maximum aspect ratio of corn husk fiber is 118 MPa and 481which obtained from 5% wt NaOH, 3 h treatment. Keywords FTIR, cellulose fiber, corn, textile, tensile strength PENDAHULUAN Penggunaan serat kapas sebagai bahan baku utama dalam industri tekstil masih sangat dominan, meskipun sejak tahun 1972 mulai terjadi pergantian serat kapas dengan serat kimia sintesis [1]. Kemampuan produksi serat kapas dalam negeri hanya dapat mencukupi 0,3% dari kebutuhan nasional [2], sehingga sebagian besar masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalah tersebut adalah mengembangkan suatu alternatif sumber serat baru yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku serat tekstil. Sejumlah serat tanaman telah diteliti untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif dari serat tekstil, diantaranya yaitu ramie, flax, hemp, jute, kapuk dan sisal [3,4]. Jagung merupakan salah satu komoditas pertanian Indonesia yang selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008, produksi jagung nasional mencapai sekitar 15,5 juta ton, dan pada tahun 2009 produksi meningkat menjadi sekitar 17,5 ton [5]. Saat ini, pemanfaatan jagung masih terbatas sebagai bahan pangan, adapun limbah kulit jagung yang dihasilkan umumnya dimanfaatkan oleh industri kreatif dalam skala kecil. Kulit jagung pada dasarnya mengandung selulosa yang cukup tinggi dengan kandungan lignin yang relatif rendah, yakni sekitar untuk selulosa dan 15%untuk lignin [6].Kandungan selulosa kulit jagung yang cukup tinggi tersebut mengindikasikan bahwa kulit jagung memiliki potensi untuk dijadikan serat sebagai bahan baku industri tekstil. Peningkatan produksi jagung nasional secara bersamaan akan turut meningkatkan limbah kulit jagung yang dihasilkan. Hal tersebut memberikan peluang untuk dapat dimanfaatkannya limbah kulit jagung sebagai bahan baku serat untuk industri tektil di Indonesia. Salah satu persyaratan serat selulosa agar dapat dimanfaatkan sebagai serat tekstil adalah aspect ratio [7]. Dalam penelitian ini, akan dilakukan ekstraksi serat kulit jagung dengan menggunakan NaOH pada berbagai konsentrasi serta waktu perlakuan yang berbeda. Serat yang dihasilkan kemudian dikarakterisasi untuk mendapatkan aspect ratio dan kekuatan tarik dari serat. BAHAN DAN METODE Bahan Kulit Jagung yang digunakan adalah limbah kulit jagung dari warung Jagung Bakar Simpang, Dago, Bandung. Natrium hidroksida NaOH diperoleh dari PT. Bratachem, Bandung. Preparasi Serat Kulit Jagung KJ Kulit jagung dipanaskan dalam larutan NaOH pada ±900C dengan konsentrasi 1, 3, dan 5% berat selama 1 dan 3 jam. Setelah proses pemanasan, residu disaring dan dicuci hingga warna larutan yang disaring berwarna putih. Residu yang dihasilkan kemudian dikeringkan selama 1 malam. Pengukuran Dimensi Serat KJ Serat KJ diukur panjangnya menggunakan penggaris dengan ketelitian 1 mm, sedangkan diameter seratnya diukur menggunakan mikroskop optik di Laboratoium Metalurgi, Mekanik & Material, Program Studi Teknik Material ITB. Ekstraksi Serat Kulit Jagung sebagai Bahan Baku Benang Tekstil Fathimah Azzahro __________________________________________________________________________________________ 23 Karakterisasi Serat KJ Serat KJ dikarakterisasi menggunakan FTIR untuk mengetahui perubahan kandungan kimia serat selulosa sebelum dan sesudah perlakuan basa. Pengujian FTIR dilakukan dengan alat Shimadzu Prestige 21 di Program Studi Kimia Institut Teknologi Bandung. Kekuatan mekanis serat selulosa kulit jagung diuji menggunakan mesin uji tarik Tensilon RTF-1310 di Laboratorium Teknik Mesin ITB. Pengujian tarik dilakukan dengan mengacu pada pengujian serat pada penelitian sebelumnya [8], namun dengan kecepatan penarikan sebesar 5 mm/menit. HASIL DAN PEMBAHASAN . Pengaruh Konsentrasi NaOH terhadap Kandungan Lignin Serat KJ Karakterisasi FTIR dilakukan terhadap sampel serat selulosa kulit jagung sebelum dan setelah diberi perlakuan basa. Gambar 1 menunjukkan spektrum hasil FTIR yang diperoleh. Pengaruh dari proses perlakuan basa terhadap kandungan lignin dari serat kulit jagung ditunjukkan oleh kecenderungan yang terjadi terhadap absorbansi pada bilangan gelombang 1506 cm-1yang menunjukkan getaran rangka C=C aromatik dari lignin [9]. Hasil pengujian yang diperoleh menunjukkan bahwa terjadi penurunan nilai absorbansi pada bilangan gelombang 1506 cm-1 yang secara kualitatif menunjukkan terjadinya penurunan kandungan lignin seiring dengan peningkatan konsentrasi larutan NaOH sebagai akibat dari semakin banyaknya Na+ dan OH- yang menyebabkan terjadinya swelling dan terlarutnya lignin [10]. Berdasarkan hasil tersebut perlakuan basa dengan NaOH 5% selama 3 jam menunjukkan absorbansi paling rendah yang mengindikasikan kondisi ekstraksi tersebut menghasilkan serat kulit jagung dengan kandungan lignin tersisa yang paling sedikit. Gambar 1. a Spektrum FTIR sampel Kulit Jagung native dan dengan beberapa perlakuan basa pada rentang bilangan gelombang 500-4000 cm-1, b Perbesaran Spektrum FTIR Gambar 1a pada rentang bilangan gelombang 1400-1650 cm-1Pengaruh Perlakuan Basa terhadap Dimensi Serat Selulosa Kulit Jagung Hasil pengukuran dimensi serat kulit jagung pada masing-masing perlakuan ditunjukkan pada Tabel 1 dengan nilai aspek rasio pada Gambar 2. Terlihat bahwa seiring dengan peningkatan konsentrasi serta waktu perlakuan basa maka diameter serat kulit jagung yang diperoleh semakin kecil sehingga aspek rasio l/d serat kulit jagung akan meningkat. Penurunan diameter serat kulit jagung terjadi karena proses penghilangan lignin Vol. 18, No. 1, Juni 2015, hal 21-25 Majalah Polimer IndonesiaISSN 1410-7864 ____________________________________________________________________________________________________ 24 pada bagian luar dari serat kulit jagung. Peningkatan waktu serta konsentrasi larutan alkali menyebabkan persentase jumlah lignin yang terlarut makin tinggi. Tabel 1. Pengukuran dimensi serat selulosa kulit jagung Perlakuan basa Panjang serat mm Diameter serat µµµµm Konsentrasi Waktu 1 1 134 453 1 3 55 251 3 1 121 306 3 3 40 230 5 1 100 207 5 3 45 185 135010020030040050027,57295,81395,42483,0927,57219,12173,91243,24 perlakuan basa 1 jam perlakuan basa 3 jamAspek rasioKonsentrasi NaOH %native Gambar 2. Grafik hubungan antara perlakuan basa dengan aspek rasio l/d seratDiameter serat yang dihasilkan berhubungan dengan nilai aspek rasio yang akan diperoleh. Nilai diameter serat yang makin kecil akan menghasilkan nilai aspek rasio serat yang makin tinggi. Untuk aplikasi di bidang tekstil serat dengan aspek rasio yang tinggi sangat diminati. Pada penelitian ini, aspek rasio tertinggi yang diperoleh adalah 483 pada perlakuan basa dengan menggunakan NaOH 5% selama 1 jam. Berdasarkan data yang diperoleh, nilai aspect ratio yang dimiliki oleh serat kulit jagung telah memenuhi syarat yang diperlukan oleh suatu serat untuk menjadi serat tekstil, yakni minimal memiliki aspect rasio bernilai 100 [11,12]. Pengaruh Perlakuan Basa terhadap Sifat Mekanis Serat KJ Nilai kekuatan tarik serat kulit jagung sebelum dan setelah proses perlakuan basa ditunjukkan pada Gambar 3. Pada Gambar 3 terlihat bahwa seiring dengan peningkatan waktu serta konsentrasi perlakuan basa, maka kekuatan tarik serat kulit jagung akan makin tinggi. Peningkatan kekuatan tarik serat kulit jagung disebabkan oleh persentase kandungan lignin pada serat kulit jagung yang makin kecil [13]. Lignin memiliki kekuatan tarik yang lebih rendah dibandingkan selulosa [14], sehingga dengan tingkat kemurnian selulosa yang makin tinggi dengan berkurangnya kandungan lignin, kekuatan tarik serat kulit jagung yang diperoleh akan makin tinggi. Kekuatan Tarik tertinggi yang diperoleh adalah 118 MPa pada perlakuan basa dengan NaOH 5% selama 3 jam. Nilai tensile strength yang diperoleh dalam penelitian ini masih dibawah jenis serat alam lain yang umum dipakai sebagai bahan baku pembuatan benang tekstil seperti kapas dan wol yang masing-masing memiliki kekuatan tarik mencapai 600 dan 170 MPa [15]. Gambar 3. Pengaruh perlakuan basa pada kulit jagung terhadap kekuatan tarik serat selulosa kulit jagung -1 1 3 50204060801001209,1826,61 31,6644,599,18108,25 108,37 perlakuan basa 1 jam perlakuan basa 3 jamKekuatan Tarik MPaKonsentrasi NaOH %native Ekstraksi Serat Kulit Jagung sebagai Bahan Baku Benang Tekstil Fathimah Azzahro __________________________________________________________________________________________ 25 KESIMPULAN Serat selulosa dapat diekstrak dari limbah kulit jagung dengan melakukan perlakuan basa. Perlakuan basa dengan menggunakan NaOH 5% selama 3 jam menunjukkan hasil ekstraksi paling optimal yang didasarkan pada hasil pengujian kualitatif melalui FTIR. Kekuatan tarik maksimal dan aspect ratio serat kulit jagung yang diperoleh pada penelitian ini adalah 118 MPa dan 483 yang mengindikasikan bahwa serat kulit jagung memenuhi syarat dan memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku benang tekstil. UCAPAN TERIMA KASIH Kami mengucapkan terima kasih kepada laboratorium teknik produksi, fakultas teknik mesin dan dirgantara, ITB atas bantuan pengujian tarik. DAFTAR PUSTAKA [1]. N. S. HARTANTO, S. WATANABE, Teknologi Tekstil, Pradnya Paramita, Jakarta 1980 [2]. D. KUSTANTINI, Peningkatan Produk-tivitas dan Pendapatan Petani melalui Penggunaan Pola Tanam Tumpang Sari, BBPPTP, Surabaya, http//ditjenbun. diakses pada Oktober 2014. [3]. NPTEL, Bast Fibers, ITT, Delhi, diakses pada November 2015 [4]. R SINCLAIR, Textiles and Fashion Materials, Design and Technology, Elsevier, Cambridge, 2015 [5]. SETNEG, Peran Teknologi Pertanian dalam Meningkatkan Produktivitas Tanaman Jagung, Kementerian Sekretariat Negara RI, diakses pada Juli 2014. [6]. T. K. FAGBEMIGUN, O. D. FAGBEMI, O. OTITOJU, E. MGBACHIUZOR, C. C. IGWE, Int. J. AgriSci., 4 2014 209 [7]. N. S. HARTANTO, S. WATANABE, Teknologi Tekstil, Pradnya Paramita, Jakarta 1980 [8]. S. S. PUTRI, Kajian Awal Pembuatan Komposit Limbah Polipropilena – Tenunan Serat Kenaf, Tugas Akhir, Institut Teknologi Bandung, Bandung, 2010 [9]. S. F. SYED DRAMAN, R. DAIK, F. A. LATIF, and S. M. EL-SHEIKH, BioResources, 91 2014 8 [10]. A. ALEMDAR and M. SAIN, Bioresource Technol., 99 2007 1664 [11]. C. R. GAJJAR and M. W. KING, Resorbable Fiber-Forming Polymers for Biotextile Applications, Springer, Heidelberg, 2014 [12]. D. R. JACKMAN and M. K. DIXON, J. CONDRA, The Guide to Textiles for Interiors, Springer, Manitoba, 2003 [13]. S. Y. ZHANG, C. G. WANG, B. H. FEI, Y. YU, H. T. CHENG, and G. L. TIAN BioResources, 82 2013 2376 [14]. S. KALIA, A. DUFRESNE, B. M. CHERIAN, B. S. KAITH, L. AVEROUS, J. NJUGUNA, and E. NASSIOPOULOS, Int. J. Polym. Sci., 2011 2011 837875 [15]. A. R. BUNSELL, Handbook of Tensile Properties of Textile and Technical Fibres, Woodhead Publishing, New Delhi, 2009 ... The newspaper is chosen because of the material is relatively easy to obtain, and the cellulose content is quite high ± 50% [70]. The cornhusk is also chosen because of its high cellulose content 40% [71] [72] and the uncomplicated cellulose extraction technique compared to other the cellulose containing materials [73]. It is noted that the cellulose content of corn husk fibre is approximately 80-87% [74]. ...Surjamanto WonorahardjoInge Magdalena Sutjahja Yati MardiyatiSuwardi TedjaThis study experimentally investigates the effect of different façades systems on thermal comfort and urban heat island UHI phenomenon by using experimental tools. Outdoor field measurements are conducted for brick, concrete, low-E glass, aluminium composite panel ACP, and clear glass to observe the effect of morning solar exposure on the east-west façade surface temperatures. Two different types of insulation materials, namely newspaper and corn husk mat, are also manufactured and considered. Then, laboratory experiments are performed with 1 m × 1 m panel under two 1000 W halogen lamps by measuring air, surface and material temperatures using a thermocouples data-logger with a recording interval of 5 min and IR thermovision for visual confirming. The lamps simulate solar exposure during morning It is noted that the brick wall stores heat during solar exposure, and then emits that heat to indoor and outdoor environments. Additional ACP to the brick wall reduces indoor air temperature significantly whereas direct impact on the outdoor temperature should also be accounted to avoid UHI. Besides, insulation material is found to be only beneficial during heating period in terms of reducing the indoor air temperature, however it slightly incremented the outdoor air temperature. This study shows how different façade systems of buildings significantly affect both the indoor and outdoor environments. It is revealed that, in the design process, the indoor air temperature should be considered for thermal comfort while the outdoor air temperature should be considered for UHI BunsellFibres usually experience tensile loads whether they are used for apparel or technical structures. Their form, which is long and fine, makes them some of the strongest materials available as well as very flexible. This book provides a concise and authoritative overview of tensile behaviour of a wide range of both natural and synthetic fibres used both in textiles and high performance materials. After preliminary chapters that introduce the reader to tensile properties, failure and testing of fibres, the book is split into two parts. Part one examines tensile properties and failure of natural fibres, such as cotton, hemp, wool and silk. Part two discusses the tensile properties and failure of synthetic fibres ranging from polyamide, polyester and polyethylene fibres to carbon fibres. Many chapters also provide a general background to the fibre, including the manufacture, microstructure, factors that affect tensile properties as well as methods to improve tensile failure. With its distinguished editor and array of international contributors, Handbook of tensile properties of textile and technical fibres is an important reference for fibre scientists, textile technologists and engineers, as well as those in academia. Provides an overview of tensile behaviour of a wide range of both natural and synthetic fibres Examines tensile characterisitics, tensile failure of textiles fibres and factors that affect tensile properties Discusses mircostructures and each type of fibre from manufacture to finished S HartantoS WatanabeTeknologi TekstilN. S. HARTANTO, S. WATANABE, Teknologi Tekstil, Pradnya Paramita, Jakarta 1980Peningkatan Produktivitas dan Pendapatan Petani melalui Penggunaan Pola Tanam Tumpang SariD KustantiniD. KUSTANTINI, Peningkatan Produktivitas dan Pendapatan Petani melalui Penggunaan Pola Tanam Tumpang Sari, BBPPTP, Surabaya, http//ditjenbun. diakses pada Oktober SetnegSETNEG, Peran Teknologi Pertanian dalam Meningkatkan Produktivitas Tanaman Jagung, Kementerian Sekretariat Negara RI, n=com_content&task=view&id=4360, diakses pada Juli K FagbemigunO D FagbemiO OtitojuE MgbachiuzorC C IgweT. K. FAGBEMIGUN, O. D. FAGBEMI, O. OTITOJU, E. MGBACHIUZOR, C. C. IGWE, Int. J. AgriSci., 4 2014 209S S PutriS. S. PUTRI, Kajian Awal Pembuatan Komposit Limbah Polipropilena -Tenunan Serat Kenaf, Tugas Akhir, Institut Teknologi Bandung, Bandung, 2010S F Syed DramanR DaikF A LatifS M El-SheikhS. F. SYED DRAMAN, R. DAIK, F. A. LATIF, and S. M. EL-SHEIKH, BioResources, 91 2014 8The Guide to Textiles for InteriorsD R JackmanM K DixonJ CondraD. R. JACKMAN and M. K. DIXON, J. CONDRA, The Guide to Textiles for Interiors, Springer, Manitoba, 2003S Y ZhangC G WangB H FeiY YuH T ChengG L TianS. Y. ZHANG, C. G. WANG, B. H. FEI, Y. YU, H. T. CHENG, and G. L. TIAN BioResources, 82 2013 2376S KaliaA DufresneB M CherianB S KaithL AverousJ NjugunaE NassiopoulosS. KALIA, A. DUFRESNE, B. M. CHERIAN, B. S. KAITH, L. AVEROUS, J. NJUGUNA, and E. NASSIOPOULOS, Int. J. Polym. Sci., 2011 2011 837875
JenisBahan Serat dari Tumbuhan 1. Serat Kulit Jagung 2. Serat Kapas 3. Serat Daun Pandan 4. Serat Flax/linen 5. Serat Pelepah Pisang 6. Serat Sabut Kelapa 7. Serat Tanaman Rami 8. Serat Eceng Gondok 9. Serat Goni 10. Serat Indigo 11. Serat Azlon 12. Serat Pina (Serat Daun Nanas) 13. Serat Tumbuhan Bambu 14. Serat Tumbuhan Jati 15. Serat Hemp 16.
prakarya Pada keseempatan kali ini admin akan membagikan kumpulan jenis bahan dan kemasan produk kerajinan dari bahan serat alam dalam pembelajaran prakarya kelas 7 revisi terbaru. Semoga apa yang admin bagikan kali ini dapat membantu anak didik dalam mencari referensi tentang kumpulan jenis bahan dan kemasan produk kerajinan dari bahan serat alam dalam pembelajaran prakarya kelas 7 Pengertian Serat AlamSerat alam merupakan jenis bahan baku untuk pembuatan benang atau kain yang berasal dari tumbuhan, hewan, atau melalui proses geologis. Serat alam juga disebut sebagai serat tekstil. Terbentuk dari tumbuhan, hewan, atau proses geologis yang mengurai, serat alam pun lebih mudah lapuk. Namun hal tersebut justru membuat serat alam lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan serat buatan atau sintetis. Serat alam juga unggul dalam memberikan kenyamanan bagi penggunanya karena terbuat dari tumbuhan dan Sejarah Serat AlamBahan serat alam dikenal orang sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Beberapa bukti sejarah mencatat bahwa bahan serat alam sudah dipergunakan sejak tahun 2640 SM. Negara yang pertama kali mengolah bahan serat alam adalah Cina. Cina sejak dahulu sudah menghasilkan serat sutera. Cina sangat tertarik dengan serat sutera yang dihasilkan dari ulat, bahan ini diolah menjadi benang untuk kebutuhan produk tekstil. Selain serat sutera, bahan serat alam lainnya berupa kapas. Pada tahun 1540 SM telah berdiri industri kapas di perkembangannya, bahan serat alam digunakan di berbagai negara lainnya, seperti serat Flax yang pertama digunakan di Swiss pada tahun 10000 SM dan serat wol mulai digunakan orang di Mesopotamia pada tahun 1000 SM. Selama ribuan tahun, serat flax, wol, sutera, dan kapas telah melayani kebutuhan manusia paling banyak sepanjang masa. Pada awal abad ke-20 mulai diperkenalkan serat buatan. Hingga saat ini telah bermacam macam jenis serat buatan diproduksi. Produksi bahan serat alam dari tahun ke tahun boleh dikatakan persentase terhadap seluruh produksi serat tekstil makin lama makin menurun mengingat kenaikan produksi bahan serat buatan yang semakin tinggi. Hal ini disebabkan ketersediaan bahan serat alam sangat terbatas. Untuk memproduksi bahan serat alam juga dibutuhkan iklim yang mendukung. Kondisi musim kemarau ataupun musim penghujan dapat mempengaruhi produksi bahan serat alam. Sifat bahan serat alam ada yang tahan akan iklim kemarau maupun kondisi musim bahan serat alam pada umumnya memiliki karakteristik yang sehat tetapi dari sisi jumlah, sifat, bentuk dan ukurannya tentu mengalami hambatan. Jika bahan serat alam ini diproduksi terus-menerus akan mempengaruhi harga pasar. Semakin langka ketersediaan bahan serat alam maka semakin mahal juga ongkos produksinya. Hal ini akan meningkatkan harga jual produk di Jenis-Jenis Serat AlamSerat sutera yang berasal dari kepompong ulat. Serat ini memiliki ciri halus, berkilau, dan nyaman kapas yang berasal dari tanaman kapas. Serat ini memiliki ciri khas kuat, tapi cepat jute yang berasal dari kulit batang pohon. Serat ini biasanya digunakan untuk membuat karpet, tali tambang, kertas, pelapis kursi mabel, dan wol yang berasal dari domba. Serat ini memiliki tingkat kehangatan tinggi, sehingga cocok dijadikan flax yang berasal dari batang tanaman Linum Usitatissimun. Serat ini biasa diolah menjadi industri linen. Serat rami yang berasal dari tanaman rami. Serat ini dapat diolah menjadi benang atau kain untuk kemudian jadi pakaian. Ciri dari serat rami kuat, berkilap, dan mampu menyerap air dengan Bahan Serat AlamHanya tumbuhan terpilih yang dapat diolah menjadi serat alam. Serat yang berasal dari tumbuhan juga bisa dilihat berdasarkan bagian-bagian tumbuhan. Serat yang diinginkan disini yaitu tahan lama, bentuknya tetap tidak susut, kuat dan permukaan yang halus atau bertekstur. Berikut adalah jenis bahan serat alam yang berasal dari Serat Kulit JagungBagian dari kulit jagung yang masih terhitung jarang pemanfaatannya, sering menjadi limbah yang dibuang dan bisa juga menjadi bahan bakar. Serat kulit jagung yang memiliki ciri berbentuk oval, warna hijau saat muda dan warna kuning saat kering. Menjadikan serat kulitnya ini tidak cukup kuat dan mudah robek, tapi bisa dijadikan kerajinan kulit jagung yang Serat KapasSudah tidak asing lagi untuk tanaman kapas ini. Serat kapas yang tergolong dalam serat selulosa alam dari tanaman kapas yang diambil. Pengolahan teknik serat kapas ini bisa dengan dipintal dapat menjadi benang dan ditenun menjadi kain. Bahan utama dari kain katun ini juga dari serat kapas yang berkualitas dan bersifat menyejukkan, disisi lain juga bisa menghangatkan ketika dingin. Serat kapas ini juga bisa dijadikan bantal, karena teksturnya lembut berwarna putih dan Serat Daun PandanCiri daun pandan yang berbentuk lancip serta memiliki sudut pada bagian daunnya, sering digunakan untuk pengharum dalam masakan. Selain itu, daun pandan ini memiliki serat yang bisa dijadikan barang kerajinan dengan pengolahan teknik Serat Flax/linenApakah kalian tahu kain linen? Kain linen yang berasal dari serat flax termasuk jenis serat alam yang paling mahal, karena saat digunakan terasa sejuk meskipun dalam cuaca panas. Proses pengolahan serat flax ini memerlukan waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan serat kapas. Serat flax ini dikategorikan dalam jenis serat nabati, karena tekstur kainnya relatif mulus dan lebih lembut saat dicuci. Serat flax juga sangat cocok untuk digunakan sebagai bahan pakaian dalam industri fashion. Seperti kemeja, gaun, rok dan lainnya. Bisa juga untuk keperluan rumah tangga seperti seprai, taplak meja dan gorden. 5. Serat Pelepah PisangTidak sembarang jenis pohon pisang yang bisa digunakan sebagai bahan pakaian. Jenis pohon pisang abaka yang menjadi salah satu pohon pisang yang bisa ditenun menjadi lembaran kain, sehingga bisa digunakan untuk bahan pakaian dari kebutuhan manusia sendiri. Jenis pisang ini sangat kuat dan kegunaannya sebagai bahan baku produk. Seperti bahan baku tali kapal, pembungkus tel celup, pembungkus tembakau, jok kursi, tekstil dan kerajinan tangan Serat Sabut KelapaMulai dari akar sampai daunnya, pohon kelapa ini bisa dimanfaatkan. Terutama bagian sabut kelapa yang masih jarang dimanfaatkan oleh manusia sebagai bahan kerajinan. Berbagai suku daerah yang di Indonesia, serat sabut kelapa ini banyak macam kerajinan. Contoh kerajinan dari serat sabut kelapa ini yaitu keset, sapu, dompet dan kerajinan Serat Tanaman RamiJenis serat rami ini bisa didapatkan dari pengolahan batang dan kayu tanaman rami boehmeria nivea. Perkembangan di daerah tropis dari tanaman ini sangat mudah tumbuh dan berkembang. Jenis bahan serat alam berupa serat rami ini, bisa dijadikan produk kain rami untuk fashion dan bahan pembuatan selulosa berkualitas tinggi. Sehingga, bisa digunakan untuk membuat jenis-jenis kain pada umumnya. Serat rami ini memiliki warna dan kilap yang cenderung lebih tinggi dari pada serat kapas. Bentuk kain serat rami juga bisa dicampur dengan serat sintetis poliester dan rayon agar saat dipakai terasa dingin, mudah menyerap keringat dan tahan Serat Eceng GondokOrang awam menganggap kalau eceng gondok ini sebagai tanaman pengganggu. Padahal, eceng gondok memiliki serat yang bisa dibuat untuk jenis kerajinan seni tekstil, karena serat ini memiliki sifat yang cukup kuat dan mudah Serat GoniJenis bahan serat alam yang selanjutnya adalah serat goni, yang berasal dari pohon goni. Pada umumnya, serat goni ini dipakai untuk pelengkap kebutuhan rumah tangga. Tidak digunakan untuk bahan pakaian, karena seratnya yang bertekstur kasar. Apabila serat goni ini terkena udara lembab dan cahaya matahari akan cepat merusaknya. Kerat goni ini bisa dimanfaatkan untuk pengikat kain kasur, karpet, tirai dan kain kursi. Bisa juga digunakan sebagai tenunan dasar pada permadani, karung goni dan Serat IndigoSerat indigo ialah serat alami tumbuhan yang bisa dimanfaatkan sebagai pewarna alami berwarna Serat AzlonApakah kalian tahu serat azlon? Serat azlon ini merupakan jenis serat yang dihasilkan dari serat kacang Serat Pina Serat Daun NanasBarong Tagalog adalah baju tradisional Filipina yang pembuatannya berasal dari serat pina yang terbuat dari daun Serat Tumbuhan BambuTumbuhan bambu ini bisa menghasilkan kerajinan. Seperti contoh dinding rumah, keranjang buah, alat-alat musik dan kerajinan lainnya. Kerajinan dari bambu ini bisa memiliki nilai jual yang tinggi, jika kamu lebih kreatif lagi dalam membuat kerajinan Serat Tumbuhan JatiTumbuhan jati ini menghasilkan serat, yang biasanya serat dari tumbuhan ini banyak digunakan dalam bangunan rumah yang Serat HempTernyata, tanaman ganja ini bisa menghasilkan serat yang disebut serat hemp. Jenis bahan serat alam ini biasanya digunakan sebagai bahan untuk pembuatan bahan Serat Tumbuhan MendongSerat dari tumbuhan mendong ini bisa dimanfaatkan sebagai kerajinan dalam bahan pembuatan tas anyaman, tikar dan kerajinan Serat Getah KaretPada umumnya, serat yang dihasilkan dari getah karet ini banyak dimanfaatkan untuk berbagai jenis kebutuhan sandang yang bahannya terbuat dari karet. Serat ini banyak digunakan untuk pembuatan sepatu kulit boot dan pembuatan benda-benda lainnya yang berbahan Serat AbakaTanaman musa textilis merupakan tanaman yang menghasilkan serat yang bernama serat abaka. Serat ini memiliki sifat tahan tekukan, mempunyai kekuatan tinggi dan tahan terhadap air. Serat ini berasal dari negara Filipina juga dikenal dengan nama manila. Serat ini bisa digunakan sebagai pakaian ningrat dengan model pakaian Serat SisalTanaman agave cantala dan agave sisalana adalah tanaman yang menghasilkan serat sisal. Tanaman sisal penghasil terbanyak ada di negara Brazil. Sifat yang dimiliki serat ini yaitu kuat dan kasar, sehingga banyak digunakan dalam material komposit untuk Serat HenequenSerat henequen ini diperoleh dari tumbuhan agave fourcroydes yang berasal dari Amerika. Memiliki sifat kuat, keras dan kemerahan yang bida digunakan dalam pembuatan benang dan Serat Pohon AnggrekSudah tidak asing dengan tumbuhan ini, tumbuhan anggrek yang bunganya memiliki manfaat. Padahal, batang dari tumbuhan ini juga memiliki manfaat diantaranya bisa membuat gelang dan lainnya. 22. Serat MelinjoSerat batang melinjo atau disebut gnetum gnemon, memiliki sifat yang mampu basah yang digunakan sebagai penguat komposit Serat Rosella Java JuteSerat ini sudah lama dimanfaatkan oleh penduduk asli Aborigin untuk digunakan sebagai tali, tambang atau kegunaan lainnya. Selain itu, rosella bisa dimanfaatkan dari buah, biji dan daunnya untuk dikonsumsi. Serat ini mempunyai warna krem sampai putih perak yang mempunyai kekuatan cukup baik. Tetapi, serat ini tetap kuat dalam keadaan Serat HenepSejak dulu serat ini sudah digunakan di Timur Tengah dan Asia. Serat yang berasal dari tanaman cannabis sativa ini, mempunyai sifat yang hampir sama dengan serat flax. Pada umumnya, serat ini berwarna abu-abu pucat kekuningan atau coklat. Serat henep juga bisa digunakan untuk tali, kanvas dan Serat KenafSerat ini diambil dari tanaman hibiscus cannabinus. India dan Pakistan adalah negara penghasil serat kenaf. Penggunaan dari serat ini terbatas hanya untuk kemasan, tali dan karung. Serat ini bisa dijadikan bahan kertas setelah diputihkan dalam bentuk Serat SunnLagi-lagi India dan Pakistan sebagai negara penghasil serat sunn ini. Serat ini berasal dari batang tanaman crotalaria juncea, yang memiliki sifat tahan terhadap jamur dan Serat JuteKulit batang dari tanaman corchorus capsularis dan corchorus olitorius adalah penghasil serat jute. Serat ini berasal dari Afrika yang sudah digunakan sejak jaman mesir. Serat ini memiliki sifat yang kuat tapi mulurnya mudah. Sifat kasar yang dimiliki serat ini, membatasi kehalusan Serat UrenaSerat ini diperoleh dari tumbuhan urena lobata. Tepatnya di negara Congo, Brazil dan Madagaskar adalah penghasil serat urena. Serat ini memiliki sifat halus, lembut, fleksibel dan kekuatannya hampir sama dengan serat jute. Serat ini biasa digunakan untuk Jenis Bahan Serat dari HewanSerat hewan yaitu serat yang berasal dari hewan atau memanfaatkan sesuatu yang ada pada hewan. Serat ini bisa dijadikan kerajinan bahan alam yang berasal dari bahan sintesis. Pemanfaatan yang ada pada hewan yang sering digunakan adalah bulu dan kulitnya. Berikut adalah jenis bahan serat alam yang berasal dari Serat Kulit SapiSering kali dijumpai, bahwa kulit sapi yang dihasilkan dari pemotongan sapi itu jarang sekali dikonsumsi. Padahal, kulit sapi ini bisa dimanfaatkan untuk membuat kerajinan. Misalnya kerajinan tas dan kerajinan alat musik, karena memiliki sifat awet dan juga Serat Kulit BuayaSering kali dijumpai, bahwa kulit sapi yang dihasilkan dari pemotongan sapi itu jarang sekali dikonsumsi. Padahal, kulit sapi ini bisa dimanfaatkan untuk membuat kerajinan. Misalnya kerajinan tas dan kerajinan alat musik, karena memiliki sifat awet dan juga buaya muara adalah jenis buaya yang banyak dimanfaatkan pada kulitnya. Beda lagi di Amerika, jenis buaya aligator ini yang dimanfaatkan pada kulitnya. Serat kulit buaya ini sering digunakan untuk bahan baku pembuatan sepatu, dompet maupun Kepompong Ulat SutraNegara China menjadi negara pertama yang membudidayakan kain sutra. Kain sutra yang dihasilkan dari serat kepompong sutra ketika akan melakukan metamorfosis menjadi dewasa. Sehingga, jenis serat ini sudah banyak digunakan sebagai bahan pembuatan kain sutra. Biasanya kain yang bahan bakunya kain sutra ini memiliki harga yang Serat Bulu DombaDomba Merino adalah jenis domba khusus yang memiliki bulu yang tebal. Bulu tebal ini biasanya digunakan untuk pembuatan bahan kain wol. Bulu domba yang awalnya memiliki sifat keriting dan lebat, yang nantinya akan di cukur pada berakhirnya musim dingin. Setelah itu, bulu domba ditenun sampai menjadi benang dan kain Serat Bulu AlpacaPeru dan Bolivia di Amerika Selatan adalah tempat hidup dan berkembangnya hewan jenis alpaca hewan kerabat unta. Hewan ini memiliki bulu yang bisa digunakan untuk bahan pembuatan kain di Amerika. Seperti bahan pembuatan baju hangat dan selimut untuk menahan Jaring Laba-labaKeunggulan dari jaring laba-laba ini adalah serat yang memiliki kekuatan dan kelenturan. Keunggulan ini bisa menjadikannya banyak manfaat dalam pembuatan rompi anti peluru. Selain itu, serat dari hewan laba-laba ini bisa dibuat menjadi Serat Bulu BeruangBulu hewan beruang bisa dijadikan bahan untuk membuat baju dan jaket. Rata-rata penduduk yang tinggal di negara yang memiliki cuaca iklim dingin, biasanya menggunakan baju dan jaket yang terbuat dari bahan baku bulu beruang Bulu Kambing KashmirBulu kambing kashmir ini memiliki kualitas yang sangat halus dari pada bulu kambing lainnya. Bulu kambing ini menghasilkan serat yang biasanya digunakan dalam pembuatan selendang Rambut KudaBahan pembuatan kuas yang biasa digunakan oleh pelukis adalah hasil dari rambut kuda yang menghasilkan serat. Selain itu, serat dari rambut kuda bisa digunakan sebagai bahan untuk senar pada beberapa jenis alat musik Bulu Berang-berangSeperti halnya beruang, berang-berang ini memiliki bulu sangat tebal yang bisa digunakan untuk bahan baju hangat dan topi. Sehingga, bulunya bisa digunakan untuk bahan pembuatan baju hangat ketika musim Serat KelinciKelinci anggora adalah jenis kelinci yang biasa dipelihara oleh peternak luar negeri. Kelinci ini memiliki bulu yang tebal, sehingga bisa dimanfaatkan untuk dijadikan bahan wol yang nantinya akan menjadi Kemasan Produk Kerajinan Bahan SeratPenyajian produk kerajinan disebut juga dengan kemasan. Kemasan telah menjadi bagian penting dari sebuah Tujuan KemasanMemberikan pelayanan kepada konsumenMemberikan suatu ciri khas / identitas produkMemberikan daya tarik kepada barang yang akan dibeli konsumenb. Fungsi KemasanSebagai wadah produkMelindungi produkMemudahkan pengangkutan distribusi produkMemberikan keterangan produkMemudahkan penggunaan penampilan Syarat Kemasan yang BaikKuat, sehingga mampu melindungi produk yang dan higienis, sehingga tidak merusak produk dan tidak menurunkan minat mudah didapat, sehingga tidak menyulitkan proses produksi dan menekan biaya membahayakan, sehingga aman digunakan oleh semua kalangan di segala usia.
\n \nproduk tekstil yang dapat dihasilkan dari serat alam kulit jagung
PembuatPola dan Pemotong Tekstil, Kulit, dan Pekerja ybdi 7436 Tukang Jahit, Penyulam, dan Tenaga ybdi 7437 Tukang Melapisi Perabotan Rumah Tangga dan Tenaga ybdi 7438 Tenaga Pembatikan TUKANG MEMBUAT BARANG DARI KULIT, BULU, TUKANG SEPATU, DAN TUKANG YBDI 7441 Tukang Membuat Pakaian Kulit, Bulu, Tukang Samak Kulit 7442 Tukang Membuat Sepatu
Print Fathimah Azzahro*, Mardiyati, Steven, dan R. Reza Rizkiansyah 1Teknik Material, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10, Bandung *E-mail This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. DOWNLOAD PDF ABSTRAK Hingga saat ini, kapas masih menjadi bahan baku utama dalam proses pembuatan benang untuk memenuhi kebutuhan industri tekstil Indonesia. Sebagian besar kebutuhan akan serat kapas dipenuhi dari impor luar negeri dan kurang dari 4% dipenuhi oleh produksi kapas dalam negeri. Tanaman jagung Zea mays adalah salah satu hasil pertanian utama yang dihasilkan Indonesia. Berdasarkan data BPS, kecenderungan perkembangan produksi jagung dari tahun 2010-2013 mengalami kenaikan sehingga limbah kulit jagung yang dihasilkan juga meningkat. Hingga saat ini limbah kulit jagung masih belum dimanfaatkan dengan optimal. Sementara itu kulit jagung mengandung serat selulosa yang cukup tinggi dan berpotensi untuk dikembangkan menjadi salah satu alternatif bahan baku serat selulosa dalam pembuatan benang pada industri tekstil Indonesia. Pada penelitian ini telah dilakukan ekstraksi serat selulosa dari kulit jagung dengan perlakuan basa menggunakan Natrium hidroksida NaOH dengan variasi konsentrasi 1, 3 dan 5 % berat pada temperatur ±90 °C. Hasil Fourier Transform Infrared FTIR menunjukkan bahwa secara kualitatif kandungan lignin serat kulit jagung setelah proses alkalisasi mengalami penurunan. Kekuatan tarik maksimum serta aspek rasio maksimum serat selulosa kulit jagung diperoleh dari perlakuan dengan NaOH 5% berat dengan waktu 3 jam, yakni 118 MPa dan 481. Kata Kunci FTIR, jagung, kekuatan tarik, serat selulosa, tekstil ABSTRACT Extraction of Corn Husk Fibre as Raw Material for Textile Yarn. Currently, cotton serves as the commonly used raw material for textile yarn to fulfill the demand of Indonesian textile industries. Most of the cotton fiber needs are still imported and less than 4% are supplied by domestic production. Corn Zea mays is one of main crops produced in Indonesia. Based on data from BPS, production of corn in 2012-2013 are relatively increased, which also followed by the increase of corn husk waste. Recently, corn husk waste is not optimally utilized. Corn husk actually has potential to be used as source of cellulose as it has fairly high contenct of cellulose, especially as an alternative raw material for yarns in Indonesian textile Industry. In this research, the cellulosic fiber was extracted from corn husk by alkali treatment using Sodium hydroxide NaOH at ±90 °C with concentration varied in 1, 3, and 5 wt% and time varied in 1 and 3 h. FTIR characterization showed that lignin content of corn husk fiber qualitatively decreased after alkali treatment process. Ultimate tensile strength and maximum aspect ratio of corn husk fiber is 118 MPa and 481, which obtained from 5% wt NaOH, 3 h treatment. Keywords FTIR, cellulose fiber, corn, textile, tensile strength
Produktekstil yang dapat dihasilkan dari serat biji kapuk?. Question from @Sekarhuwaida - Sekolah Menengah Pertama - Seni. produk tekstil yang dihasilkan dari serat kapas adalah kain yang digunakan untuk membuat baju dan celana / pakaian. lalu hasilnya rajutan sebagai hiasan produk kerajinan
Sejak akhir tahun 2019, Sustainable Fashion dan Sustainable Fabric mulai diangkat menjadi satu topik yang hangat untuk diperbincangkan. Issue penting tersebut banyak disuarakan oleh kalangan mahasiswa Fashion Design dari berbagai universitas yang ada di Indonesia. Saking banyaknya tema dari pembahasan topik ini hingga mampu dirangkum menjadi sebuah buku. Namun, kondisi pasca pandemi di awal tahun 2022 ditambah lagi dengan adanya konflik berujung perang antara Rusia-Ukraina yang membawa sebuah perubahan besar di berbagai bidang. Sekalipun Pandemi dan perang ini bersifat temporer, namun dampaknya akan sangat terlihat bertahun-tahun setelahnya. Peristiwa ini sekaligus menjadi penanda lembaran baru di pasar produksi dan konsumsi, tak terkecuali dalam pemilihan bahan baku dalam industri tekstil adalah bahan yang paling mendasar dalam dunia fashion. Ketika gerakan Sustainable Fashion merebak sepuluh tahun yang lalu, sebagian pasar mulai berpihak pada pilihan bahan-bahan tekstil yang bersifat biodegradable atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sustainable Fabric. Bahkan kebanyakan produsen mulai memilih jenis serat kapas organik yang dalam budidayanya tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia serta air dalam jumlah banyak. Perubahan trend ini membuat angka penjualan kapas komersil yang banyak mengkonsumsi pupuk dan pestisida kimia serta membutuhkan lebih banyak air perlahan mulai rantai pasok, jenis material tekstil yang memungkinkan untuk lebih dikembangkan adalah sektor artificial fiber, yaitu serat buatan yang bahan bakunya berasal dari serat alam. Salah satu pengembangan serat buatan dari bahan baku serat selulose yang menghasilkan Viscose rayon fiber hingga generasi ketiga. Serat viscose rayon terbuat dari bahan baku selulose atau semacam Tencel Lyocel buatan Lanzing Belgia yaitu serat Cupro Rayon dengan merk Bemberg’. Sedangkan dari sisi serat protein buatan, setelah dikenal serat tekstil berbahan susu skim dengan nama Casein, Lanital, Fibrolen dan lain sebagainya, kini ada lagi serat kedelai Soy Protein Fiber SFP. Kabar terbarunya, kini ada lagi serat buatan berbahan baku jagung, PLA Polylactic Acid atau yang lebih dikenal sebagai Polimer serat ini sudah mulai diproduksi dalam bentuk filamen. Nama serat yang diaplikasikan sebagai bahan tekstil adalah Polylactic Acid PLA. Serat yang diproduksi dari bahan dasar jagung ini kemudian dapat ditenun, baik dalam komposisi 100% maupun dikombinasikan dengan serat lain, seperti serat katun, jenis-jenis rayon serta viscose Polylactic acid PLA dikembangkan sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Temuan ini pun dianggap sebagai jenis serat berkelanjutan dan biodegradable yang paling menjanjikan sebagai pengganti serat polyester dari bahan baku Polyetilen Tereftalat PET konvensional. Sebagaimana kita tahu, polyester merupakan salah satu produk tekstil yang sangat tidak Biodegradable menjadi biang dari pencemaran lingkungan karena sampah polyester tekstil maupun plastik yang tidak dapat terurai oleh bakteri ini gambaran proses produksi dari serat Polylactic acid PLA yang berbahan baku Indonesia PT. Asia Pasific Fiber yang beralamatkan di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah sedang melakukan sosialisasi kehadiran jenis serat baru yang membawa harapan baik. PLA masih disebut sebagai jenis Polimer khusus’ yang diharapkan mampu menggantikan serat sintetis yang memiliki sifat undegradable alias sulit terurai di tanah. Serat ini memiliki kehalusan dan sifat menyerap air yang sangat baik serta mengandung zat anti bakteri alami. Ada pula kandungan asam lemah yang mampu menenangkan kulit, daya tahan panas yang baik, dan tahan terhadap sinar UV. Dengan sifat dan karakteristik yang dimilikinya, sangat besar peluang serat ini untuk menjadi salah satu jenis serat yang digemari oleh banyak orang. Keberadaan PLA sebagai jenis baru membuat kain-kain berbahan PLA yang diperjual belikan di pasaran masih didominasi produk-produk buatan China. Sementara pabrik dalam negeri lainnya mungkin masih dalam tahap mensosialisasikan serat ini kepada calon tekstil China yang membuat kain dari serat ini pun masih belum terang-terangan membuka harga untuk produknya. Sikap ini bukanlah tanpa alasan, namun serat buatan dari bahan baku jagung ini masih dalam tahap penjajagan pasar. Selain itu, kuantitas produk yang akan dipesan juga masih menjadi bahan pertimbangan di harga berapa serat ini akan dijual. Jenis-jenis serat TekstilBerikut ini beberapa jenis dan nama serat serat sintetis melonjak dalam kurun waktu 20 tahun yang terhitung sejak tahun 1990 hingga 2010. Fenomena ini diiringi dengan melimpahnya sampah tekstil yang memenuhi permukaan bumi hingga mencapai angka 92 Milyard Ton per tahun. Jika sampah-sampah ini terus menerus dibiarkan maka kesehatan dan kelestarian lingkungan bumi serta makhluk hidup akan semakin terancam. Hal inilah yang kemudian menuntut produsen serat untuk terus berinovasi dalam menciptakan serat yang lebih biodegradable dan ramah lingkungan. Kondisi Pasca Pandemi dan terjadinya perang Rusia – Ukraina membuat perdagangan tekstil antar negara menjadi semakin mahal. Oleh sebab itu, banyak iklan yang menyuarakan penggunaan produk-prduk domestik sebagai alternatif yang paling membantu. Dengan langkah tersebut, ketergantungan impor kapas dapat di substitusi dari bahan Rayon maupun PLA yang sudah di produksi di dalam Berita Selainitu, berbagai produk yang dihasilkan dari kreasi serat alam memiliki nilai jual yang bisa membuat anda geleng kepala. Daftar Isi Kerajinan Bahan Serat Alam 1. Tempat Pensil dari pelepah pisang 2. Bunga Cantik dari kulit jagung 3. Tas Cantik dari Eceng Gondok 4. Vas Bunga dari Sabut Kelapa 5. Kerajinan dari Daun Pandan 6. Tembikar 7. dariproduk samping pertanian dan perikanan. atau aplikasinya pada serat tekstil dan aplikasi . yang berasal dari bahan alami dikenal dengan . Kainsutra adalah kain yang berasal dari serat sutra. Serat sutra sendiri dihasilkan dari kepompong ulat sutra murbei. Tekstur yang halus dan lembut pada kain sutra didapat dari asam amino dalam serat sutra. Kain berharga mahal ini sudah dikenal sejak zaman nenek moyang dan masih terus diminati hingga sekarang. 5. Serat Pohon Pisang Jawabanyang benar adalah: B. Tas dari kain perca. Dilansir dari Ensiklopedia, contoh kerajinan limbah tekstil dari serat alam adalah Tas dari kain perca. Pembahasan dan Penjelasan. Menurut saya jawaban A. Tas dari kulit adalah jawaban yang kurang tepat, karena sudah terlihat jelas antara pertanyaan dan jawaban tidak nyambung sama sekali. Karenaberasal dari serat alam, kapas memiliki sifat higroskopis (menyerap air), mudah kusut, tahan setrika panas, tidak tahan asam mineral, tahan terhadap ngengat, tapi tidak tahan cendawan. 2. Rayon Meski termasuk jenis tekstil yang berasal dari serabut selulosa, rayon berbeda dengan katun. .
  • h4haxjyth3.pages.dev/143
  • h4haxjyth3.pages.dev/121
  • h4haxjyth3.pages.dev/242
  • h4haxjyth3.pages.dev/80
  • h4haxjyth3.pages.dev/129
  • h4haxjyth3.pages.dev/176
  • h4haxjyth3.pages.dev/473
  • h4haxjyth3.pages.dev/165
  • produk tekstil yang dapat dihasilkan dari serat alam kulit jagung